Sejarah Petis Udang
Petis terbuat dari bahan udang kecil atau yang dikenal dengan rebon. Petis yang berbahan dasar udang disebut petis udang. Namun ada juga petis yang dibuat dari bahan ikan, dan ditempat lain petis juga dibuat dari daging sapi.
Petis terbuat dari bahan udang kecil atau yang dikenal dengan rebon. Petis yang berbahan dasar udang disebut petis udang. Namun ada juga petis yang dibuat dari bahan ikan, dan ditempat lain petis juga dibuat dari daging sapi.
Sebagai
kuliner asli Indonesia, petis menyimpan ‘misteri’ tentang asal usulnya.
Ada beberapa versi yang menjelaskan tentang asal usul petis. Salah
satu literatur babad Cirebon menjelaskan bahwa, petis ada sejak zaman
kerajaan Padjajaran. Tepatnya saat pangeran Walangsungsang atau yang
dikenal dengan pangeran Cakrabuana bertahta. Raja Padjajaran yang
merupakan anak dari Prabu Siliwangi berkuasa sekitar abad ke 14 masehi.
Itu berarti keberadaan petis sudah 600-an tahun.
Pada masa itu
kuwu Cairebon (sebutan Cirebon pada masa lampau) mempersembahkan hasil
tangkapan para nelayan di wilayah utara Cirebon kepada raja, sebagai
bentuk upeti kepada negara. Upeti itu berupa gelondongan udang rebon
yang di rebus. Sisa air dari rebusan itulah yang kemudian diolah mejadi
petis. Ditemukannya petis pada masa ini erat kaitannya dengan awal
mulanya keberadaan terasi, sebab udang gelondongan yang diserahkan
kepada raja tersebut yang kemudian disebut sebagai terasi, asal kata
terasih yang berarti dikasihi.
Menilik dari asal mula kota
Cirebon yang dulu disebut dengan Cairebon, yang terdiri dari dua kata
yaitu Cai yang berarti air dan rebon yang berarti udang kecil. Dari
literature ini dapat disimpulkan bahwa petis memang berasal dari
Cirebon. Sumber lain menyebutkan bahwa petis berasal dari nelayan
pantura, terutama wilayah sidoarjo yang selama ini terkenal sebagai
penghasil petis. Awal munculnya petis disana sama dengan yang terjadi di
Cirebon, semua karena ketidaksengajaan. Yaitu saat para nelayan
kewalahan menangani hasil tangkapannya, kemudian terbersitlah ide untuk
merebus hasil tangkapan itu biar lebih awet. Dari situi ternyata dapat
menghasilkan produk sampingan berupa limbah air bekas rebusan. Kemudian
air sisa rebusan itu diberilah bumbu oleh para istri nelayan, dari
situlah awalnya petis muncul.
Di sidoarjo sendiri bahan dasar
untuk membuat petisberbeda dengan petis di daerah lain. Di sidoarjo
petis dibuat dari kupang (Corbula Faba) atau kerang yang berukuran
kecil. Hal ini berbeda dengan petis Cirebon yang dibuat dari bahan dasar
udang rebon.
Petis Warisan Untuk Indonesia
Soal-asal usul darimana petis itu tidak penting. Jelasanya petis sudah menjadi jenis dari kuliner yang khas, yang ada di Indonesia, berbeda dengan trasi (produk utamanya) yang juga dikenal di wilayah asia tenggara.
Soal-asal usul darimana petis itu tidak penting. Jelasanya petis sudah menjadi jenis dari kuliner yang khas, yang ada di Indonesia, berbeda dengan trasi (produk utamanya) yang juga dikenal di wilayah asia tenggara.
Petis
telah memperkaya kuliner Indonesia, apalagi petis dijadikan bumbu untuk
beberapa menu makanan seperti rujak cingur, ayam bumbu petis, dan menu
lainnya. Selain itu petis memang cocok untuk cocolan menyantap gorengan.
Petis ini jauh lebih enak dibanding dengan saus tomat, apalagi jika
melihat bahan dasarya yang kaya akan protein. Petis ini menjadi
alternatif pengganti saus maupun mayonise, bukan sekadar karena ikatan
budaya namun kandungan petis memang gizinya jauh lebih tinggi dibanding
dengan saus ataupun mayonise. Yuk kita lestarikan kuliner lokal.
No comments:
Post a Comment